Percakapan Terakhir Hendri Dengan Korban Pembunuhan Di Dalam Kardus

by
Percakapan Terakhir Hendri Dengan Korban Pembunuhan Di Dalam Kardus
Percakapan Terakhir Hendri Dengan Korban Pembunuhan Di Dalam Kardus

Mediaqq – Penemuan mayat di dalam kardus, bukan menghebohkan warga Medan saja. Berita ini banyak tersebar di berbagai media sosial. Kasus ini diketahui oleh publik setelah seorang penjual martabak menemukan kardus yang mencurigakan di atas Honda Scoopy yang mesinnya mati namun lampunya menyala. Polisi kemudian menuju ke TKP setelah mendapat laporan dari warga. Di samping Gereja HKBP (Huria Kristen Batak Protestan) Ampera, Jalan Karya Rakyat Gang Melati 1, Kelurahan Sei Agul, Kecamatan Medan Barat, polisi membuka sedikit kardus tersebut dan ternyata isinya adalah tangan manusia. Mengetahui adanya kasus pembunuhan, polisi tidak jadi membuka semua kardus itu di TKP. Kardus tersebut kemudian di larikan di RS Bhayangkara untuk di otopsi.

Luka di tubuh korban menunjukan bahwa korban adalah di bunuh.Hanya butuh waktu 24 jam, polisi sudah bisa menangkap tersangka pembunuhan dengan bantuan CCTV di sekitar TKP. Tersangka adalah orang Titipapan, Medan. Pembunuhan sadis itu pun terjadi di kediamannya, Kompleks Perumahan Ivory, Titipapan, Medan.

Percakapan Terakhir Hendri Dengan Korban Pembunuhan Di Dalam Kardus

Dari pengakuan tersangka yang bernama Hendri, inilah percakapan terakhir di antara kedua.

Di sini, diketahui bahwa korban yang bernama Rika Karinna adalah sebagai distributor. Sedangkan tersangka Hendri adalah reseller. Cerita bermula saat Rika menelepon Hendri untuk bertanya mengapa sudah lama tidak mengambil barang dengannya. Hendri pun mengatakan bahwa barang yang di jual Rika lebih mahal daripada yang di pasaran. Hendri mengatakan dirinya mengecek harga di Pajak Sambas, barang hanya seharga Rp. 230 ribu. Rika pun meminta Hendri jangan mengambil barang dengan yang lain terlebih dahulu. Rika mengatakan dirinya akan melakukan pengecekan lagi.

Keesokan harinya, Rika menelepon Hendri dan setuju untuk memberikan harga sebesar Rp. 230 ribu. Hendri pun mengambil 17 paket barang dari Rika. Hendri meminta agar jangan barang di pesannya jangan telalu lama datang. Setelah jelas semua perincian barang, Hendri pun membayar Rp. 4 jutaan. Rika berjanji bahwa barang akan datang dalam waktu 4 hari kedepan.

Pada hari H, barang belum juga datang dan Rika hanya mengatakan “overload”. Rika meminta Hendri menunggu 4 hari lagi. Hendri menolak dan meminta Rika untuk kembalikan uangnya. Rika menolak permintaan Hendri untuk pengembalian uang. Rika mengatakan besok dirinya akan ke rumah Hendri.

Pada hari Selasa, 5 Juni 2018, Rika mendatangi rumah Hendri sekitar pukul 22.10 WIB. Dengan memakai Honda Scoopy BK  5875 ABM, korban sampai ke rumah Hendri. Korban kemudian menelepon Hendri dan mengatakan bahwa dirinya sudah di depan rumah. Hendri kemudian membuka pintu rumah untuk Rika. Rika mengatakan “overload”. Hendri kemudian ngotot meminta uangnya kembali, namun Rika tetap menolak. Karena emosi, Hendri langsung membenturkan kepala Rika ke tembok. Setelah itu, Hendri mengambil pisau yang ada di meja makan dan menikam Rika hingga meninggal.

Sadar Rika meninggal, Hendri kemudian memasukan jasad Rika ke dalam sebuah koper kain, kemudian membungkusnya dengan kardus. Kardus itu kemudian di ikat di belakang tempat duduk sepeda motor korban. Hendri mengendarai sepeda motor korban ke TKP dan meninggalkannya begitu saja. Hendri pun pulang ke rumahnya dengan menaiki becak mesin. Barang-barang Rika seperti tas dan sandal di buang oleh Hendri ke sungai Deli.

Saat di tangkap oleh poilisi, Hendri mengakui perbuatannya. Hendri sempat ingin melarikan diri saat polisi sedang mencari barang Rika yang di buang oleh Hendri ke Sungai Deli. Akhirnya polisi menembak kaki Hendri karena berusaha melawan. Hendri di rawat di RS Bhayangkara.

loading...